Yayasan Al-Irfan
Seri I’tikaf 1430H (2) >> Amazing Child; Habiburrahman version: Fathan, Noval, dan Najmi
Dalam pengalaman I’tikaf di Habiburrahman, alhamdulillah saya selalu dipertemukan oleh anak-anak kecil yang mempunyai cerita menarik dengan Al Qur’an. Kalau dua tahun yang lalu saya bertemu tiga bocah (Zaki, Yayang, dan Lukman), maka kali ini saya dipertemukan oleh Fathan, Noval, dan Najmi. Saya jamin kalo antm/rekan2 ketemu langsung, akan langsung terkagum/terheran2 melihat mereka.. pertanyaan pamungkas yang suka saya tanyakan kepada anak-anak kecil itu adalah udah ngaji berapa banyak pas I’tikaf ini? Atau udah berapa banyak hafalannya?
Fathan fadhillah, bocah Garut, sekarang kelas 1 SMP. Ke habib bersama neneknya, dengan kata lain, di wilayah ikhwan, dia hanya sendirian. Tiap kali ngliat, pasti dia sendirian. Tapi yang menarik, dia selalu membawa Al Qur’an dan buku catatan. Buku catatan ini pernah saya buka sendiri, dan isinya memang materi-materi yang pernah disampaikan pada I’tikaf saat itu. Luar biasa, yang mahasiswa aja kadang ga pernah nyatet (dengerin sih dengerin). Tapi coba tanya berapa hafalannya? Fathan hafal juz 29 & 30. Sekali lagi juz 29 & 30. Waktu saya mendengat bacaan Qur’annya juga bagus. Sampe saya tanya, ngajinya dari awal Ramadhan udah sebanyak 18 juz. Jadi??? Masih ada yang belum semangat untuk tilawah&menghafal Qur’an???
Seri I’tikaf 1430H (1) >> Allah kirim dia untuk menemani dan mengingatkan saya
Bagi saya, i’tikaf di Habibburahman sangat lah mengesankan dari sisi keilmuan, spiritualitas, hingga ukhuwah islamiyah.. terakhir sekali, dua tahun silam, saya bisa mengalokasikan waktu saya (sampai rela meninggalkan semua aktivitas) khusus untuk i’tikaf bersama teman2 yang satu kontrakan (semoga Allah merahmati dimanapun mereka berada), I’tikaf bersama mereka sungguh membawa pengalaman dan interaksi yang luar biasa. Ga tergantikan..
Jadi untuk I’tikaf kali ini, seperti ada yang kurang.. tapi akhirnya Allah kirim dia, ga di duga, tapi membuat senang dan makin semangat. Orang yang satu ini, satu dari sedikit orang yang kalo saya nglihat dia, membuat saya introspeksi diri. Apakah tilawah saya sudah baik? Hafalan nambah terus? Amanah aktivitas da’wah berjalan baik? Bahkan pertanyaan beliau yang sulit untuk dijawab waktu masih di MaTa dulu masih saya ingat,”Gimana tilawah anak MaTa’?” ^_^ susah kan dijawabnya.. kalau diskusi or bicara, seringnya pasti menyangkutkan pembicaraan beliau dengan ayat-ayat Al-Qur’an padahal awal obrolan ga nyangkut sama sekali dengan ayat-ayat.. subhanallah-lah pokoknya. Jadi kalo tau-tau nyeletuk dengan taushiyah ayat al-Qur’an itu biasa dan malah saya tunggu-tunggu..
ROHIS: Antara Eksklusif dan Inklusif
Biasanya, ROHIS identik dengan sekumpulan anak yang rajin ke mesjid dan kurang terbuka dalam bergaul. Hal ini kadang menjadi stigma negatif yang sering dipermasalahkan baik ‘orang dalam’ maupun ‘orang luar’. Sebagian memandang ROHIS itu harusnya jangan tertutup, gimana mau beramar ma’ruf nahi munkar kalau tidak mampu bergaul. Dakwah kan masalah komunikasi, bagaimana pesan tersampaikan dengan baik kalo aktivis-aktivis ROHIS bersikap menutup diri?
Tapi sebagian lagi ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak masalah bahkan sesuatu yang baik karena dengan begitu aktivis rohis mampu mencontohkan bagaimana akhlak seorang muslim dan menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada di dalam pergaulan anak muda pada umumnya. Selain itu, ROHIS dan aktivisnya terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif yang bertolak belakang dengan upaya dia untuk memperbaiki diri di lingkungan yang Islami. Eksklusif sebenarnya bukan disengaja, tapi konsukensi karena kita memilih untuk beda.
Memoar Cinta di Taman Bukit Duri
Waktu itu di pertengahan tahun 2000, kulangkahkan kaki memasuki SMU yang digelari SMU Unggulan Nasional itu, kumasuki pagarnya untuk mengikuti upacara hari senin pertama kalinya dengan pakaian putih-biru celana pendek, tak kusangka tempat ini nantinya akan mempunyai tempat tersendiri di relung hatiku.
Sebagai anak yang berasal dari daerah, tentu merupakan kebanggaan untuk bisa memasuki sekolah unggulan ini, jauh melebihi kebanggaan yang kuperoleh sebagai peraih NEM Ebtanas tertinggi se-kotamadya tempat ku berasal, dan karena achievement ini pula aku ditempatkan di salah satu dari dua kelas unggulan waktu itu yaitu di 1-A (satunya lagi kelas 1-i), karena pada waktu itu NEM di daerah DKI cukup rendah capaiannya. Dan karena itu pula maka jadilah aku sebagai salah satu penghuni yang bersemayam di deretan kost sekitar 8, ntar waktu kelas 3 kita bikin kumpulan iseng-iseng BARKOD, barisan Remaja Kost-an Delapan.