Yayasan Al-Irfan
Ushul Isyrin (20 Prinsip dalam memahami Islam)
Berikut ini adalah teks dari 20 prinsip yang dihimpun oleh Syaikh Hassan Al-Banna rahimahullah. Prinsip ini bukanlah hal yang baru dalam Islam, akan tetapi merupakan perspektif Hassan Al-Banna mengenai bingkai bagi pemahaman Islam yang komprehensif dan keluasan khazanah intelektual dan peradaban islam itu sendiri. Bila kita selami kedalamannya maka ia menghasilkan syarah yang sangat panjang (telah terdapat berbagai buku yang mensyarah 20 prinsip tersebut) dan terasa mewakili berbagai pembahasan tentang islam dari berbagai macam pemikiran yang telah berkembang. Dr Yusuf Qardhawy bahkan menempatkan 20 prinsip ini sebagai prinsip yang bisa diterima bersama dan hendaknya dijadikan titik tolak oleh berbagai macam gerakan islam (baca : Menuju Kesatuan Fikrah Aktivis Islam, buku yang ditulis Dr. Yusuf Qaradawy).
Adapun dalam risalah ta’alim untuk aktivis gerakan Ikhwanul Muslimin (ataupun yang mengadopsi prinsip-prinsipnya), 20 prinsip ini menjadi bingkai yang wajib dipahami oleh setiap kadernya. Ia merupakan bagian dari penjelasan rukun “al-fahmu”, sehingga adalah suatu kesalahan memahami al-fahmu tanpa memahami 20 prinsip ini, sebagaimana yang dijadikan alasan oleh sebagian aktivis untuk menolak sesuatu tugas/amanah dakwah, seolah sekarang al-fahmu berarti : dapat ia terima menurut akalnya sendiri, padahal tidak hanya demikian. Prinsip inilah yang menjadi ruh dari pilar komitmen pertama seorang aktivis dakwah sebelum memahami permasalahan lain secara lebih detail dan juga sebelum melangkah menuju pilar-pilar komitmen berikutnya.
Silakan membaca isi dari 20 prinsip ini.
baca selengkapnya >>>
Memoar Cinta di Taman Bukit Duri
Waktu itu di pertengahan tahun 2000, kulangkahkan kaki memasuki SMU yang digelari SMU Unggulan Nasional itu, kumasuki pagarnya untuk mengikuti upacara hari senin pertama kalinya dengan pakaian putih-biru celana pendek, tak kusangka tempat ini nantinya akan mempunyai tempat tersendiri di relung hatiku.
Sebagai anak yang berasal dari daerah, tentu merupakan kebanggaan untuk bisa memasuki sekolah unggulan ini, jauh melebihi kebanggaan yang kuperoleh sebagai peraih NEM Ebtanas tertinggi se-kotamadya tempat ku berasal, dan karena achievement ini pula aku ditempatkan di salah satu dari dua kelas unggulan waktu itu yaitu di 1-A (satunya lagi kelas 1-i), karena pada waktu itu NEM di daerah DKI cukup rendah capaiannya. Dan karena itu pula maka jadilah aku sebagai salah satu penghuni yang bersemayam di deretan kost sekitar 8, ntar waktu kelas 3 kita bikin kumpulan iseng-iseng BARKOD, barisan Remaja Kost-an Delapan.
Berbuat Baik kepada Kedua Orang Tua
(diambil dari materi Tarbiyah Islamiyyah)
Keutamaan-keutaman dari Birrul Walidain
- Ahabul ‘amali illalahi ta’ala (amal yang paling dicintai disisi Allah SWT)
Sebagaimana dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abdir Rahman Abdillah Ibni Mas’ud ra “Aku pernah bertanya kepada Nabi SAW amal apa yang paling di cintai disisi Allah?”
Rasulullah bersabda ” Shalat tepat pada waktunya”.
Kemudian aku tanya lagi “Apa lagi selain itu?”
bersabda Rasulullah “Berbakti kepada kedua orang tua”
Aku tanya lagi ” Apa lagi ?”.
Jawab Rasulullah ” Jihad dijalan Allah”.Ini berarti diantara 2 amal yang paling dicintai Shalat tepat waktu dan jihad fisabilillah tidak berarti jika durhaka kepada orang tua. Ini dikisahkan bahwa Rasulullah pernah menolak salah seorang sahabat untuk berjihad dijalan Allah karena belum mendapat ridha orang tua. Akhirnya Rasulullah memperintahkan sahabat tsb untuk segera pulang memperbaiki hubungan dengan kedua orang tuanya. baca selengkapnya >>>
Kepada Para Pemuda
(dikutip dari Majmu’atur Rasail Imam Hassan Al-Banna : Kepada Para Pemuda Khususnya Para Mahasiswa, hanya sebagian awal dari risalah tersebut, di dalam risalah ini terkandung materi mengenai karakteristik pemuda, dan tentang maratibul ‘amal )
Bismillahirrahmanirrrahim
“Katakanlah, ‘Sesunguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikit pun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) adzab yang keras.’ Katakanlah, ‘Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang ghaib.’ Katakanlah.’Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi.’Katakanlah, ‘Jika aku sesat maka sesunggunya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri, dan jika aku mendapatkan petunjuk, maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.” (Saba’: 46-50)