Yayasan Al-Irfan
Seri I’tikaf 1430H (1) >> Allah kirim dia untuk menemani dan mengingatkan saya
Bagi saya, i’tikaf di Habibburahman sangat lah mengesankan dari sisi keilmuan, spiritualitas, hingga ukhuwah islamiyah.. terakhir sekali, dua tahun silam, saya bisa mengalokasikan waktu saya (sampai rela meninggalkan semua aktivitas) khusus untuk i’tikaf bersama teman2 yang satu kontrakan (semoga Allah merahmati dimanapun mereka berada), I’tikaf bersama mereka sungguh membawa pengalaman dan interaksi yang luar biasa. Ga tergantikan..
Jadi untuk I’tikaf kali ini, seperti ada yang kurang.. tapi akhirnya Allah kirim dia, ga di duga, tapi membuat senang dan makin semangat. Orang yang satu ini, satu dari sedikit orang yang kalo saya nglihat dia, membuat saya introspeksi diri. Apakah tilawah saya sudah baik? Hafalan nambah terus? Amanah aktivitas da’wah berjalan baik? Bahkan pertanyaan beliau yang sulit untuk dijawab waktu masih di MaTa dulu masih saya ingat,”Gimana tilawah anak MaTa’?” ^_^ susah kan dijawabnya.. kalau diskusi or bicara, seringnya pasti menyangkutkan pembicaraan beliau dengan ayat-ayat Al-Qur’an padahal awal obrolan ga nyangkut sama sekali dengan ayat-ayat.. subhanallah-lah pokoknya. Jadi kalo tau-tau nyeletuk dengan taushiyah ayat al-Qur’an itu biasa dan malah saya tunggu-tunggu..
Seperti kita tau bersama, yang khas dengan qiyamul lail di masjid habiburrahman, dalam pelaksanaan QL-nya insyaAllah khatam dalam 10 malam terakhir itu. Khusus untuk tahun ini, khatam 30 juz itu setiap malamnya dibagimenjadi 0.5 juz pada tarawihnya dan kira-kira 2.5 juz (kayaknya sih lebih) pada tengah malamnya. Jadi bagi antm/rekan2 yang belum tau, disana tarawih dimulai dari jam 19.45-an s.d jam 20.30-an, lalu tidur (lampu masjid dimatikan, pasti!) jam 22.00, dibangunkan kembali jam 00.00, mulai QL jam 01.00, terdiri dari dua rakaat (sebanyak 4 s.d 5x + witir) dan selesai QL+witir jam 03.30 atau biasanya jam 03.45, abis tu sahur.. kalo ada rekan2 yang tanya, emg sempet sahur?? Sempet kok, santai lah, tanya aja ama yang pernah I’tikaf disana.. oia, tiap dua rakaat itu biasanya 20-30 menit dengan jeda antar 2 rakaat itu kira 2-3 menit. nah suatu saat, pada malam ke-25, kebetulan emg imam QL (ust.Abdul Aziz) membawakan surat al-Isra.
Pada jeda dua rakaat pertama, beliau yang QL-nya memang tepat bersebelahan dengan saya, tau-tau ambil Al Qur’an saya, tanpa bicara sedikit pun, buka-buka halaman, lalu menunjukkan al-Isra:45 kepada saya, isinya:
Wa idza qara’tal qur’aana ja’alnaa baynaka wa baynalladziina laa yu’minuuna bil aakhirati hijaabam mastuurun (Al Isra’:45). Dan apabila engkau (Muhammad) membaca Al-Qur’an, Kami adakan suatu dinding yang tidak terlihat antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat.
Saya bingung.. saya baca terjemahnya, tapi saya blank, gbs nangkep sama sekali maksud bliau apa. Dengan setengah berbisik, saya tanya maksudnya apa. Beliau cuma bilang, “ada dinding ga terlihat.”
“Maksudnya?”, saya masih ga ngerti
“iya dinding ga terlihat. Kalau semua mukmin di dunia ini, dalam memandang akhirat masih sama dengan orang2 yang tidak beriman, maka pasti bacaan Qur’annya masih bermasalah.”
Jadi maksudnya (yang saya tangkap), dinding tidak terlihat itu adalah perbedaan cara pandang terhadap akhirat dalam kehidupan mereka. Dan antara mukmin dan selainnya mestinya beda. Harus beda!!! Dan barangkali yang dimaksud dengan qara’tal pada ayat itu adalah segala macam interaksi yang komprehensif terhadap Al Qur’an (tilawah, tadabbur, tahfidz, mengamalkan, dan menda’wahkan) dengan interaksi paling sederhananya adalah tilawah. Saya sedih sekaligus semakin sadar bahwa pekerjaan kita masih berat.. bahkan sekadar hanya untuk membetulkan bacaan tilawah seluruh mukmin.. tapi itu lah kata Al-Qur’an, selama dinding ga terlihat itu, barangkali mukmin masih akan terus dibawah dan tidak bisa memancarkan cahaya Islam yang sebenarnya.. bagi saya menjadi sangat dalam pesan yang ingin disampaikan walaupun dengan awal penyampaian yang unik (diawali dengan hanya diam dan menunjukkan sebuah ayat).. subhanallah. Dan beliau mengakhiri, tepat sebelum ust.Abdul Aziz memulai 2 rakaat QL selanjutnya, “jadi, klo dinding (beda cara pandang) ini ga ada, pasti cara baca Al Qur’an kita masih pada bermasalah.”
Pengalaman lain lagi saat diskusi dengan beliau pada malam 27 (malam 27 ini kalo saya sebut sebagai puncak jihad mencari lailatul qadr). Satu ayat yang dibaca oleh Ust.Abdul Aziz pada QL malam 27 itu adalah
Qaalu rabbaana man qaddamalanaa haadzaa fazid hu adzaaban dhi’fan fin naar (Shad:61) Mereka berkata (lagi),”Ya Tuhan kami, barang siapa menjerumuskan kami ke dalam (azab) ini, maka tambahkanlah azab kepadanya dua kali lipat di dalam neraka.
Saya cerita ke beliau gini, “Ayat itu (maksudnya ayat di atas) bercerita tentang seorang yang diazab oleh Allah, lalu dia berdoa supaya orang lain yang mengajaknya untuk melakukan keburukan, dilipatgandakan adzabnya di neraka. Lalu kira-kira gmn ceritanya kalo ada orang yang diadzab karena melakukan keburukan karena memang tidak pernah dida’wahi oleh siapapun (baca: kita)?”
Karena ceritanya agak panjang, beliau agak bingung, jadi saya ulang lagi cerita pertanyaannya, dan akhirnya beliau cuma komentar gini, “itulah pentingnya bertaubat bagi kader da’wah, banyak-banyak lah bertaubat.” Astaghfirullah Ya Ghaffar..
Sekian dulu.. Karena diskusi dan taushiyahnya, beliau selalu punya tempat spesial dalam kehidupan saya. Semoga Allah berkenan supaya kami bisa bersilaturahim kembali lain waktu. Semoga bermanfaat, berlanjut ke edisi selanjutnya