2008
Biasanya, ROHIS identik dengan sekumpulan anak yang rajin ke mesjid dan kurang terbuka dalam bergaul. Hal ini kadang menjadi stigma negatif yang sering dipermasalahkan baik ‘orang dalam’ maupun ‘orang luar’. Sebagian memandang ROHIS itu harusnya jangan tertutup, gimana mau beramar ma’ruf nahi munkar kalau tidak mampu bergaul. Dakwah kan masalah komunikasi, bagaimana pesan tersampaikan dengan baik kalo aktivis-aktivis ROHIS bersikap menutup diri?
Tapi sebagian lagi ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak masalah bahkan sesuatu yang baik karena dengan begitu aktivis rohis mampu mencontohkan bagaimana akhlak seorang muslim dan menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada di dalam pergaulan anak muda pada umumnya. Selain itu, ROHIS dan aktivisnya terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif yang bertolak belakang dengan upaya dia untuk memperbaiki diri di lingkungan yang Islami. Eksklusif sebenarnya bukan disengaja, tapi konsukensi karena kita memilih untuk beda.
ROHIS SMA 8 menurut saya, angkatan 2004-2006 mewakili ROHIS yang ekslusif dengan gradasi yang berbeda-beda sedangkan 2007-2008 lebih eksklusif. 2009 saya kurang tau, tapi sepertinya lebih eksklusif di banding 2007 dan 2008. Ukuran saya adalah banyak tidaknya anak ROHIS yang juga aktif di subsie/organisasi lain sebagai pengurus atau bahkan ketua, dan keberagaman gaya penampilan para pengurusnya. Tentu saja penilaian ini subjektif sifatnya
Ketika melihat perkembangan ROHIS yang semakin inklusif di angkatan 2008, saya awalnya merasa sangat senang karena dengan begitu ROHIS mampu memperluas pengaruh dakwahnya ke berbagai elemen. Ada banyak anak Puapala, Sierra, TX yang jadi aktivis ROHIS. Mantap kan? Tapi ternyata yang ikut mentoring ngga banyak. Anak-anaknya susah diajakin mentoring. Terlepas dari berbagai keterbatasan faktor waktu, mentor dan lain-lain, kesungguhan mereka untuk ikut mentoring sangat mencemaskan. Alhasil, hanya ada 1 kelompok yang survive sampai lulus tahun ini di ikhwan, di akhwat juga ngga jauh beda.
Lalu saya jadi berpikir ulang, jangan-jangan karena sangat terbuka akhirnya pengaruh-pengaruh negatif dari luar pun mudah masuk ke ROHIS dan aktivisnya dan sepertinya memang sulit dihindari. Sepertinya mengamalkan prinsip “berbaur tapi tidak melebur” tidak mudah. Jadi kesimpulan sementara saya, Eksklusivisme di ROHIS bukan masalah. Eksklusif bisa jadi justru lebih baik ketimbang memaksa diri untuk berbaur tapi justru kecebur. Dan eksklusif tidak berarti sok suci atau sok alim, tapi lebih kepada bersikap apa adanya dan berupaya menjaga diri dari lingkungan yang kurang baik. Wallahua’lam.[ ]

![Yayasan Al-Irfan [alumni ROHIS SMA Negeri 8 Jakarta] banner situs Yayasan Al-Irfan](http://www.yai8.org/banner2-yai.png)