2008
Waktu itu di pertengahan tahun 2000, kulangkahkan kaki memasuki SMU yang digelari SMU Unggulan Nasional itu, kumasuki pagarnya untuk mengikuti upacara hari senin pertama kalinya dengan pakaian putih-biru celana pendek, tak kusangka tempat ini nantinya akan mempunyai tempat tersendiri di relung hatiku.
Sebagai anak yang berasal dari daerah, tentu merupakan kebanggaan untuk bisa memasuki sekolah unggulan ini, jauh melebihi kebanggaan yang kuperoleh sebagai peraih NEM Ebtanas tertinggi se-kotamadya tempat ku berasal, dan karena achievement ini pula aku ditempatkan di salah satu dari dua kelas unggulan waktu itu yaitu di 1-A (satunya lagi kelas 1-i), karena pada waktu itu NEM di daerah DKI cukup rendah capaiannya. Dan karena itu pula maka jadilah aku sebagai salah satu penghuni yang bersemayam di deretan kost sekitar 8, ntar waktu kelas 3 kita bikin kumpulan iseng-iseng BARKOD, barisan Remaja Kost-an Delapan.
Banyak hal yang luar biasa yang saya peroleh di delapan, mulai dari kegiatan anak2nya yang sangat dinamis, bayangkan waktu itu kakak-kakak angkatan 2001 membuat acara Gala (Gawe-nya Anak Lapan) yang memakan dana ratusan juta, dan sukses pula, atau membuat acara Scala (Sudah Dance Basket Pula) yang rame dan tiap tahunnya meningkat kualitas acaranya, mulai dari sekedar di lapangan sekolah, hingga di volley indoor senayan. Puapala yang waktu itu masih sering naik turun gunung. Perwakilan Kelas-nya yang elite habis, dan OSIS-nya yang berjiwa pemimpin sekali. Siera yang luar biasa kompak dan solid. Hingga Brajamusti yang meskipun terlarang, tetap berusaha memberikan arti keberadaannya bagi kesolidan angkatan dan mendukung hampir semua kegiatan di sekolahku itu. Dinamika yang sangat luar biasa itu menjadi loncatan pendewasaan bagi diriku, mengingat dinamika smp di daerah dahulu tidak sedemikian padatnya. Hebatnya semua aktivitas itu beriringan dengan tuntutan akademis yang sangat ketat, mulai dari jam 7 pagi hingga jam 4 sore. yang unik, kalo kata pak Sugiharto kepsek saat itu, anak 8 itu manjat pagarnya bukan keluar, tapi ke dalam sekolah, maksudnya mereka yang telat tidak boleh masuk tetap bersemangat untuk dapat masuk ke dalam, meskipun harus memanjat pagar.
Walau demikian sempat aku masuk ke dalam dunia yang sangat berbeda, terkadang bersentuhan dengan budaya-budaya yang negatif pada anak muda, walau untungnya Allah masih menyelamatkan aku untuk tidak terjerumus terlalu dalam, meskipun sudah menjadi bagian dari entitas tersebut. Katakanlah dulu kebiasaan kami itu kalau malam kita jalan ke Plaza Senayan, tempat nongkrong ABG pada waktu itu, dengan jaket dan rokok yang menyala. kemudian beradu Dance2 Revolution di semacam zona hiburan gitu lah di sana, yang dijadikan ajang persaingan ABG waktu itu, sementara teman kita sedang bertanding kita, cowok dan cewek, bersorak sorai disana. kadang-kadang beberapa dari kami kalau keliling-keliling malam ada yang ngerokok, sesekali dulu ada yang mabok, ya .. mabok karena minuman keras, dan miras itu disembunyikan di kost salah satu teman kami. banyak pula hal lain yang cukup negatif, yang kemudian di kemudian hari kuketahui secara teoritis hal tersebut dinamakan bullying, hingga, maaf, pernah terjadi kasus-kasus selain yang kusebut, yang cukup mencengangkan di beberapa teman. tak sebaiknya kuceritakan di sini.
Namun ada satu entitas yang meskipun tidak ku anggap hebat-hebat banget sih, paling tidak aku respek lah dengan mereka, yaitu komunitas anak-anak yang suka lama nongkrong di mesjid. Kadang-kadang kalo istirahat pertama mereka menjalankan sholat sunnah, yang kemudian kutahu itu namanya sholat dhuha. orang-orangnya rata-rata biasa aja lah, tapi unik. Ada senior yang alim, tapi kalo dah main bola, mukanya berubah jadi merah dan jadilah ia striker andal di tim kelasnya, ketua rohis pula. ada yang di osis dengan gayanya yang unik, ada yang di sains (KIR) dengan gayanya yang serius.
Ketua rohis itu dulu karena rumahnya jauh, di daerah halim, maka ia sering sekali menginap di mesjid sekolah, kadang-kadang berkas ujiannya ketinggalan di lemari perpus mesjid (perdalam - perpustakaan dinul islam), dari situ aku ketahui kalau senior ini jago juga di akademik, khususnya kimia.. pada waktu itu di 8 nilai-nilai 20-100 itu biasa … tidak seperti sekarang dengan KBK yang wajib minimal 75, atau sesuai dengan standar tertentu.. nah si senior ini luar biasa nilai kimianya paling rendah yang aku pernah dapati di berkas itu sekitar 80-an lah.
suatu hari ketika maghrib, di masjid darul irfan (waktu itu sore2 delapan masih rame), aku tertegun melihat seorang sosok yang membalut mukanya dengan sejadah di ujung belakang mesjid, sedang terisak-isak, setelah sholat maghrib. rupanya itu sang senior ketua rohis, kulihat beliau terisak dan sesekali berdoa. rupanya beliau sedang berkontemplasi, merenung, yang kemudian kuketahui dalam terminologi keislaman itu namanya ber-muhasabah ….
sedikit demi sedikit aku melihat karakter dari senior ini, semakin respek aku dalam hati kepadanya … hingga suatu saat dalam acara yang bernama Maviroh (penerimaan aktivis rohis) yang secara tidak sengaja aku ikut disitu, padahal itu gara-gara habis latihan brajamusti, mau nimbrung aja sama temen2 seangkatan yang lagi pada ikut acara itu di mesjid), aku bertemu dengan dia di salah satu pos dan di tes bacaan qur’an oleh beliau. Perasaan hormat itu pula yang menjadikan aku tak ragu-ragu terkadang untuk mencurahkan berbagai masalah yang kuhadapi ke beliau, pernah suatu pagi sebelum bel berbunyi, saat itu aku sedang jatuh cinta pada seorang gadis di sekolah itu, dan betapa bimbang rasanya hati ini … maka kuceritakan, dengn gaya bertanya tentang hati dan cinta… ternyata beliau menjawab dengan sangat jernih dan menyentuh, dengan menjelaskan beberapa isi dari kitab Taman Orang-Orang Yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu karya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah… maka menjadi cukup jernih pula aku memandang cinta dan permasalahannya. Subhanallah…
Di angkatanku ada pula anak-anak yang kemudian diidentifikasi rajin berada di mesjid, kadang-kadang kelakuan mereka aneh-aneh, dan kadang ekstrim. ada seorang kawan yang kemudian jadi ketua rohis, kalau aku berbicara dengan sok tahu tentang islam, atau ada hal yang salah, wah langsung disembur tuh sama dia, dengan nadanya yang khas “Antum ini gimana …?!”
Ada juga seorang anak yang nantinya jadi ketua OSIS dengan gayanya yang sangat concern tentang berbagai aktivitas di delapan, pernah kami habiskan waktu hingga malam untuk berdiskusi tentang dinamika di delapan…
Ada juga seorang kawan yang nantinya jadi wakil ketua osis, yang memang sangat perhatian sekali pada nilai-nilai agama. lucunya nih anak pernah datengin gw dan berkata Dhon musik itu haram, nih di al-quran dikatakan (sambil menunjukkan ayat di surat Asy-syu’ara), namun belakangan diralat sama beliau dengan menunjukkan akhir surat tersebut. tapi aku sangat tersentuh dengan kepeduliannya. walaupun demikian kami sama2 ada juga di kelompok anak2 brajamusti, tapi kalo sudah bersinggungan dengan agama, dia gak bakal kasi kompromi,,,
hmm, betapa unik kawan-kawan tersebut ….
(bersambung …)

![Yayasan Al-Irfan [alumni ROHIS SMA Negeri 8 Jakarta] banner situs Yayasan Al-Irfan](http://www.yai8.org/banner2-yai.png)