Yayasan Al-Irfan
Negara-Negara Arab Selayaknya Malu Pada Kelompok Aktivis Pembela Ghaza
Eramuslim. Negara-negara Arab seharus malu dan tergerak hatinya melihat keberanian para aktivis kemanusiaan yang berusaha melakukan perlawanan terhadap blokade rezim Zionis Israel di Jalur Ghaza.
Hal tersebut diungkapkan pimpinan Hamas Ismail Haniyah dalam wawancara eksklusif dengan stasiun televisi Iran, Press TV. Dalam wawancara itu, Haniyah juga mendesak kepala otoritas pemerintahan Palestina Mahmud Abbas untuk melanjutkan dialog demi kepentingan persatuan nasional dan mengakhiri perpecahan di antara mereka (Fatah-Hamas).
Tim Ekpedisi Kapal untuk Membebaskan Ghaza
Eramuslim.
Aktivis perdamaian dan kemanusiaan dari organisasi Free Gaza Movement nekad untuk menerobos blokade Israel di Jalur Ghaza dengan menggunakan dua kapal penangkap ikan. Para aktivis yang berjumlah 44 orang itu memutuskan untuk masuk ke Jalur Ghaza lewat jalur laut, meski mendapat mendapat ancaman akan dibunuh.
Para pendukung aktivis itu sudah berkumpul di pelabuhan Larnaca, sebelah selatan kepulauan Cyprus pada pukul 09.50 pagi waktu setempat, untuk melepas dua kapal yang mengangkut para aktivis itu menuju Ghaza. Sebuah kapal penjaga pantai, mengawal kapal-kapal mereka sampai sejauh tiga mil dari batas pantai Cyprus.
ROHIS: Antara Eksklusif dan Inklusif
Biasanya, ROHIS identik dengan sekumpulan anak yang rajin ke mesjid dan kurang terbuka dalam bergaul. Hal ini kadang menjadi stigma negatif yang sering dipermasalahkan baik ‘orang dalam’ maupun ‘orang luar’. Sebagian memandang ROHIS itu harusnya jangan tertutup, gimana mau beramar ma’ruf nahi munkar kalau tidak mampu bergaul. Dakwah kan masalah komunikasi, bagaimana pesan tersampaikan dengan baik kalo aktivis-aktivis ROHIS bersikap menutup diri?
Tapi sebagian lagi ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak masalah bahkan sesuatu yang baik karena dengan begitu aktivis rohis mampu mencontohkan bagaimana akhlak seorang muslim dan menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada di dalam pergaulan anak muda pada umumnya. Selain itu, ROHIS dan aktivisnya terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif yang bertolak belakang dengan upaya dia untuk memperbaiki diri di lingkungan yang Islami. Eksklusif sebenarnya bukan disengaja, tapi konsukensi karena kita memilih untuk beda.
Memoar Cinta di Taman Bukit Duri
Waktu itu di pertengahan tahun 2000, kulangkahkan kaki memasuki SMU yang digelari SMU Unggulan Nasional itu, kumasuki pagarnya untuk mengikuti upacara hari senin pertama kalinya dengan pakaian putih-biru celana pendek, tak kusangka tempat ini nantinya akan mempunyai tempat tersendiri di relung hatiku.
Sebagai anak yang berasal dari daerah, tentu merupakan kebanggaan untuk bisa memasuki sekolah unggulan ini, jauh melebihi kebanggaan yang kuperoleh sebagai peraih NEM Ebtanas tertinggi se-kotamadya tempat ku berasal, dan karena achievement ini pula aku ditempatkan di salah satu dari dua kelas unggulan waktu itu yaitu di 1-A (satunya lagi kelas 1-i), karena pada waktu itu NEM di daerah DKI cukup rendah capaiannya. Dan karena itu pula maka jadilah aku sebagai salah satu penghuni yang bersemayam di deretan kost sekitar 8, ntar waktu kelas 3 kita bikin kumpulan iseng-iseng BARKOD, barisan Remaja Kost-an Delapan.
Harapan buat Kepala Sekolah yang Baru
Saya punya dua harapan yang sangat besar untuk kepala sekolah yang baru. Pertama, mudah-mudahan mabit di mesjid sekolah diijinkan. Kedua, peraturan bahwa sekolah harus kosong jam 4 dihapus.
Kita berharap mabit bisa dijadikan sarana yang efektif untuk pembinaan anak-anak sekolah sekaligus meng-cover kekurangan-kekurangan yang ada di mentoring atau halaqoh. Di acara mabit, kita bisa mengundang pembicara-pembicara yang memang punya kapasitas keilmuan untuk membahas suatu persoalan, khususnya yang terkait dengan keislaman. Dari yang sudah-sudah, kita juga melihat partisipasi anak sekolah di acara mabit lebih besar daripada acara-acara kajian lain yang diadakan ROHIS.

